I Loved Her First

Berawal dari lagu yang dikirimkan oleh sister gilak, dan aku dengarkan dengan tanpa membaca liriknya terlebih dahulu, awalnya biasa saja #nyanyik. Rasanya pasti ada yang kurang kena, kalau emang lagu ini direkomendasikan untuk di dengar bahkan si sister rela mengirimkan .mp3 nya melalui email, ehm.. baiklah ndak ada salahnya untuk mencari tahu lirik lagunya. Trus apa yang terjadi..? JENGGG…JENGGG… 1 tetes air mata membasahi pipi chubby ini, 2 tetes air mata membasahi pelupuk mata ini, sebelum air mata ini membasahi seluruh kantor dan membuat banjir disana sini, aku bergegas menghapus air mata itu.

Mengapa harus menangis? apa isi lagu itu? sebegitu dramatis kah?
“Lagu itu adalah lagu yang dinyanyikan oleh seorang bapak saat melihat Putri yang dikasihinya menikah dengan pria yang menjadi pendamping hidupnya selamanya”

trus…? Bukannya ntuh biasa ajah? cuma karena seorang bapak bernyanyi gitu? Mungkin buat orang iya biasa, tapi buat aku pribadi, itu salah satu impian aku dari dulu sebelum aku menikah. Sebenarnya cerita ini aku pernah buat disalah satu postingan ku saat hari bahagia kami 16 April 2012. Namun rasanya ndak ingin melewatkan moment special saat aku mendapatkan kembali lagu yang paling PAS untuk mengungkapkan rasa hati ingin diantar Bapak ke altar pernikahan.

Dulu, saat aku dan pacar(baca: sekarang suami) berjanji untuk saling mengasihi dan saling mengenal lebih dekat, aku takut membawa si pacar bertemu dengan PA’eee dan MA’eee, karena buat PA’eee dia sangat over protective dengan ketiga putrinya apabila ada lelaki yang dekat dengan kami, PA’eee bakal pasang tampang ‘seram’nya, hahaa… Ndak sering ada cowok main kerumah ingin bertemu kami hanya bertahan sampai depan pintu atau hanya bisa duduk sekitar 15 menit, hihihi…
Jadi dulu kalau aku mau keluar dan bertemu si pacar, aku bakal bilang keluar ketemu temen, dan kalau pulang si pacar cuma nganterin sampai depan rumah tetangga dan ndak pernah sampai masuk ke dalam rumah. Sampai saat PA’eee dan MA’eee ternyata tahu kalau aku selalu dianterin pulang oleh seorang cowok dan ndak ijin pada mereka kalau dia sudah mengantarkan putri mereka dengan selamat. Akhirnya aku membawa si pacar kerumah dan bertemu PA’eee dan MA’eee. Dari pandangan pertama si MA’eee udah suka dan senang ama si pacar, sedangkan PA’eee masih seperti biasa, cool dan tegas untuk memilih orang-orang yang ingin dekat dengan putri-putrinya.

Begitulah waktu berlalu, berhubung hubungan ku dengan si pacar jarak jauh, jadi dia juga datang ke rumah kalau liburan kuliah ajah, dan aku masih belum dapat ijin dari si MA’eee untuk bisa datang ke rumah si pacar,

katanya “Pantang klo cewek datang ke rumah cowoknya kalau belum ‘pasti’ bakal jadi menantunya“,

JLEBBBB.. ntuh statement bener2 melekat dan aku udah bilang ke si pacar dari awal, Puji Tuhan dia ngerti sich, hehehe…
Aku juga kuliah jauh dari keluarga, tapi kalau nelfon si MA’eee pasti tanya kabar si pacar, tapi kalau PA’eee ndak pernah tanya kabar si pacar, dia masih cool dan bertahan untuk menguji si pacar sepertinya, bagaimana dia bisa menarik perhatian si PA’eee. Sampai disaat dimana ada satu kejadian yang membuat aku down saat itu, sehingga hampir setiap hari si MA’eee dan si PA’eee nelfon buat kasih dukungan ama aku, dan sampai di satu ketika,

si PA’eee bertanya “Apa kabar si Hutagaol ‘nang? ndak pernah dia datang ke Jakarta?

JLEBBBB, akhirnya itu pertama kalinya si PA’eee bertanya tentang si pacar, senangnya bukan main, aku pikir itu awal yang baik buat si pacar untuk lebih lagi mencari perhatian PA’eee. Waktu berlalu, dan setiap pulang dari tempatnya kuliah ke kota kelahiran di Siantar, si pacar pasti datang ke rumah, mulailah terjalin pembicaraan yang seru antara si PA’eee dan si pacar. Apalagi kalau udah cerita tentang otomotif, mereka berdua bisa lupa waktu sampai MA’eee teriak buat ngajakin makan biasanya🙂. Betapa bahagia rasanya saat melihat 2 pria yang paling aku sayang didalam hidupku itu saling tertawa,tersenyum dan penuh canda, apalagi notabene PA’eee dirumah selama ini hanya pria sendiri, dan jarang ngobrol dengan kami sesuai dengan genre-nya dia, saat dia bisa ngobrol sebegitunya dengan si pacar, kami semua sukacita melebihi sukacita PA’eee saat itu.

Sampai disatu ketika, penyakit itu ada pada tubuh gagahnya PA’eee, dan seketika membuatnya melemah, yah..yang pertama kali melemah adalah gerakannya, karena saraf motoriknya rusak, yang menurut dokter tempat PA’eee periksa bahwa PA’eee terkena stroke. Kemudian hari berganti hari, kesehatan PA’eee semakin menurun karena setiap PA’eee ngomong kita harus teliti mendengar apa yang PA’eee bilang, karena lapal-nya sudah tidak sempurna seperti orang biasa. Saat si pacar datang ke rumah dan mendengar PA’eee ngomong gitu, dia ndak tega ngajak ngomong PA’eee,karena dia sering ndak ngerti apa yang PA’eee bilang dan takut PA’eee tersinggung karena salah ngerti maksud ucapan PA’eee, tapi si pacar tetap excited kalau bertemu PA’eee seems like nothing change. Dan pada titik terendahnya, PA’eee sudah ndak bisa bergerak, ndak bisa bicara, ndak bisa ingat apa2, sungguh menyedihkan ;'(. Namun yang buat sukacita adalah, setiap si pacar datang ke rumah, si PA’eee langsung respon(baca: biasanya dia respon pada orang yang dia anggap sangat dekat dan kenal lama), yang buat si pacar tetap ngobrol ama PA’eee, walau tidak mengerti, tidak membalas pertanyaan, bahkan tidak merespon sama sekali, tetap si pacar ndak membedakan PA’eee, proud of him.

Rabu, 31 Agustus 2011, Hari dimana keluarga si pacar datang kerumah(baca: Adat batak namanya Marhori-hori dinding),aku udah pernah buat penjelasannya di Marhori-hori Dinding. Dari keluarga Silalahi ada PA’eee, MA’eee, Opung, Mama Tua, Ade’ Kembarku Coy dan Cen, sedangkan dari keluarga Hutagaol ada Amang Boru, Namboru, Abang, dan si pacar(baca: panggilan sebelum menikah). Berhubung aku sedang berlibur di Bandung dan ndak pulan libur lebaran ke Siantar, aku ndak ikut dalam acara ntuh, hanya mendengar ceritanya dari sisi MA’eee dan si pacar lewat telepon. Tapi cerita si MA’eee lebih membuat haru biru, sampai terisak-isak(baca: sedikit dilebih2kan, tapi sedikit).
Legend:
M –> MA’eee
P –> Pacar
O –> Opung

Disela-sela perbincangan mereka, ada percakapan yang dikasih tau MA’eee yang paling buat haru biru :’)
M      : Nantulang dengar dari boru nantulang, ada katanya ditanyain mama dia tadi malam ya?(baca: aku ceritain interview terberat antara calon menantu dan calon mertua, disini)
P       : Oh iya inang, tapi antara mama dengan boru nantulan ajah yang tau itu
M     : Gitu ya.. tp paling ndak nantulang taulah apa inti pembicaraan ntuh
P      : oh iya nantulang, hehehe.. *nyengir
M     : Jadi gimana, cinta dan sayangnya kamu dengan anak nantulang..?
Sebelum si pacar jawab langsung disela ama si Opung
O     : Kaya’nya kalau itu ndak perlu kamu tanya lagi
M    : Kenapa? *heran dan kaget
O    : Kamu ndak liat tadi dia gitu datang, langsung dipeluk dan diciumnya bapak si Dora(*baca: panggilan PA’eee), yah…kalau bapaknya ajah dia sayang seperti itu, apalagi anaknya
M : JDERRRRRRR… *kaget

Gimana ndak haru biru coba, MA’eee yang disitu ajah ndak ngeh dengan kejadian ntuh. Puji Tuhan akhirnya semua acara berjalan dengan lancar, dan walaupun PA’eee ndak bisa berkontribusi apa-apa saat ntuh, dia senyum terus kata MA’eee dan si pacar, sepertinya dia bahagia, yah..pasti dia bahagia, akan ada yang menggantikan posisinya untuk menjadi pelindung putrinya ini, si boru panggoaran.

Sejak acara ntuh, niat aku untuk diantar ke altar pernikahan oleh PA’eee semakin besar, dan sejak saat itu pula aku lebih giat Do’a puasa untuk kesembuhan PA’eee. Aku percaya dan berdo’a, sebelum pesta pernikahan kami, PA’eee pasti sudah sembuh dan bisa berjalan, turun dari kursi rodanya untuk membawaku ke altar pernikahan bertemu pria yang dia percayakan untuk menjadi penggantinya. Namun kondisi PA’eee semakin memburuk dari hari ke hari, aku pun tetap Do’a puasa, walaupun ndak bisa turun dari kursi rodanya, aku mau PA’eee mengantar aku tetap ke altar pernikahan dan bertemu pria yang menjadi pilihan anaknya dan dia, namun ternyata semua dihapus dari kertas Do’a yang sudah aku tulis dan ucapkan selama itu.

Minggu, 18 Semptember 2011, PA’eee dipanggil Tuhan untuk datang ke sisinya dan berkumpul bersama Bapa disurga, meninggalkan kami didunia ini. Betapa hancur hatiku saat itu. aku teriak,

aku bilang “Tuhan..ndak bisakah Engkau memberikan umur paling tidak 6 bulan lagi buat PA’eee, agar dia bisa mengantarku ke altar pernikahan ku, ndak bisakah Tuhan beri kesembuhan buat PA’eee 6 bulan kedepan walau diatas kursi rodanya?“,

tapi aku sadar, aku yang selama ini meminta kesembuhan buat PA’eee, dan saat itu, saat PA’eee dipanggil Tuhan, itu artinya PA’eee sembuh dari semua penyakitnya, dari semua penderitaannya melawan penyakit itu, dan Tuhan udah kasih kesempatan juga buat PA’eee ikut disalah 1 acara dimana PA’eee tau bahwa putrinya akan menikah dengan pria yang sudah dia percayakan. Dan lagu ini yang seharusnya menjadi ungkapan hari seorang Bapak pada pria yang menjadi pilihannya untuk menggantikan perannya dalam hidup putrinya.

How I miss my PA’eee, I miss his laugh, I miss his smile. See you then in Heaven, PA’eee..


3 thoughts on “I Loved Her First

  1. “so be careful when you hold my girl…”
    Jadi meski si ayah sudah ‘mempercayakan’ putrinya pada pria yang direstuinya, dia tetap khawatir ya….

    *hapus air mata*

    Kan udah ku bilang di email jangan nangis sis…😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s