Memasak itu Menyenangkan lho..

Memasak adalah sesuatu yang paling aku takuti dari kecil. Saat ada diusia dimana aku dan adik-adik ku sudah harus membantu MA’eee menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah, memasak adalah hal yang paling aku hindari. Memasak identik dengan dapur, bau rempah-rempah, bahan-bahan yang membuat mata perih dan aroma yang bau serta amis. Jadi setiap ada digiliran memasak, aku bakal merayu adik kembar ku untuk mau menggantikan posisi untuk memasak.

Setelah dewasa, aku tinggal sendiri di Jakarta, aku juga selalu makan terbang(baca: makan diluar rumah), ada beberapa kali masak sendiri tapi karena situasi dan kondisi yang memaksa, tapi persentasenya selama 7 tahun di Jakarta untuk memasak aku hanya 1%(baca: pasti masih ada yang protes dengan angka ntuh :D), dan kalau liburan di Siantar, dirumah orang tua, posisi sebagai tamu selalu dimasakin ndak pernah masak, tetep keukeh ntar belajar masaknya saat sudah menikah ajah.
Mama selalu ingetin, “Ntar kalau udah jadi seorang istri harus bisa masak buat suami dan keluarganya lho nang, jangan malu-maluin mama ya” dan Aku selalu tersenyum ajah bilang “Gampang MA’eee, kan sekarang udah banyak tempat makan diluar enak-enak lagi“, “Tetap ajah, suami mu dan anak-anak mu harus makan dirumah dan itu masakan kamu” kata si MA’eee terus mengingatkan, “Iya..iya..ntar udah menikah dech baru dipikirin” jawab ku si keras kepala. Kalau cerita tanggapan si pacar saat itu(baca: suami saat ini), “Boleh ajah sekarang belum bisa masak, tapi kalau sudah menikah, aku ndak mau makan diluar, terserah kamu gimana caranya menyediakannya“, aku jawab “Siappppp bosss” dengan senyuman manisku.

Anyways, dari pacaran si pacar udah bilang kalau mama-nya(baca: sekarang mertua aku) pinter masak, dan masakannya enak, ehmmm…sebenernya ada 2 alternatif artinya dia ngomong ntuh, yah klo ndak untuk memotivasi aku biar belajar masak dari jauh-jauh hari sebelum menikah, atau sekedar nakutin aku, awas kalau ndak pinter masak,ntar ndak direstui bakal jadi mantunya, wakakkaaa…
Tapi tenang, saat bertemu calon mertua ku saat ntuh, aku langsung jujur *ya harus donk ya*,
ME : “Namboru, kata abang namboru pinter masak dan masakannya enak ya?”
HER : “Akh..biasa ajah, lagian namanya istri, ibu harus bisa masak lah”
ME : “Oh..kalau aku ndak bisa masak lah namboru”
HER : “Oh gampang ko itu, ntar tinggal ajah disini selama 6 bulan, pasti bisa masak”
ME : “Wakakaka…” *kaget, begong dan ngakak mendengar jawaban fantastis itu😀

Walaupun udah kena pembicaraan gitu, tetap ajah ndak ada nafsu mau belajar masak dan explore masakan-masakan yang bakal disajikan saat sudah jadi istri nantinya disaat belum menikah *selftoyor*. Bahkan 2 minggu sebelum pernikahan ku, aku tinggal dengan keluarga di Siantar, dan memutuskan untuk meninggalkan Jakarta for good. Seharusnya waktu menunggu tanggal pernikahan ku, aku pergunakan untuk belajar masak, tapi ndak juga aku manfaatin, sampai-sampai adik ku bilang, sini kan ke dapur belajar atau paling ndak tau ini namanya apa ajah bumbu-nya, eh..yang ada aku malah makin males, ngerasa disepelekan *selftoyor*, sampat saat yang dinanti aku menjad seorang istri dan tinggal terpisah dari keluarga aku dan keluarga mertua aku.
JENG..JENG..
Sesampainya dirumah sendiri, mulai belanja kebutuhan bulanan, aku mulai beli apa, apa yang aku lihat dan tau namanya, itu doank yang aku beli. Sesampainya dirumah, aku mulai memasaknya dan disinilah semuanya terjadi, yah..bencana membawa nikmat. Ikan ini mau dimasak apa, sayur ini mau dibuat apa, pelengkap makanan lainnya apa, garamnya seberapa banyak? gulanya perlu atau tidak, pakai air atau santan? kacauuuuuu….malu semalu-malunya😦. Akhirnya buah kemalesanku selama ini berbuah disaat yang tepat, disaat aku emang harus menuainya. Tapi aku bersyukur, punya suami yang ndak langsung nge-judge dan membuat semakin down dengan semua tampang dan rasa makanan yang harus dia nikmati walau mungkin dari hati yang paling dalam siapapun akan menertawakan hasil masakanku. “Ndak apa sesekali santan diganti dengan air“,”Wah..lucu juga rasanya klo banyak garam“,”Ehm…bisalah gini buat kamu yang belajar masak“. Mungkin bagi orang ntuh kalimat karena baru menikah, tapi apapun ntuh paling ndak itu buat aku sadar kalau aku harus buat yang jauh lebih baik dari itu.

Santap Siang ala Chef Moris

Makanan Favorit Suami
Mulailah, setiap hari aku mencari resep-resep sederhana untuk masakan dirumah, aku catat bahan-bahannya, dan cara memasaknya. walau saat memasak masih membaca cara membuatnya, tapi sekarang udah percaya untuk menyajikan masakan itu untuk suami tersayang, dan tentu saja komentarnya saat ini jauh lebih membuat bahagia, walau ndak sampai terbang, tapi cukup bisa membuat kembali semangat explore masakan lainnya. Tidak harus berdasarkan resep-resep yang ada di internet, aku juga sering membuat masakan yang aku rasa bisa dinikmatin orang suami ku. Walau aku belon pinter masak, tapi saat ini aku seneng bgt saat berbelanja untuk masakan sehari-hari dan saat ada didapur, bisa tahan dari pagi ampe siang, hihihihii

“Until I discovered cooking, I was never really interested in anything.” 
– Julia Child –

P.S Jadi buat gadis-gadis cantik diluar sana, yang ndak suka masak, ternyata memasak ntuh menyenangkan lho, asik dan bahagianya saat melihat orang lain menyantap masakan kita dengan lahapnya. Apalagi kata orang tua dulu, istri yang pinter memasak membuat suaminya jatuh cinta lagi dari hari ke hari seperti pertama kali jatuh cinta pada istrinya. Ayo mulai explore dan mencintai dapur kita🙂

9 thoughts on “Memasak itu Menyenangkan lho..

    • Hahaha…. mungkin ndak semua orang mba punya mood untuk masak, aku juga sring ndak punya mood masak, klo lagi datang bulan🙂. Anw lain x klo beli ikan dipasar gitu, jalan ketempat lain ajah dulu biar waktu ikan-nya dipretelin ndak dilihat🙂

      Like

  1. Enyaaaaakkk!!!

    Memasak itu emang menyenangkan kok dek, apalagi buat orang yg qt kasihi.. Bumbu cintanya ga dijual dimana-mana, tumbuhnya dari hati..

    Anw,,itu yg di kotak tupperware daun2an itu apaan sih?

    Happy cooking dear😉

    Like

  2. Hahahaha…bumbu cinta-ny ntuh yang dasyat ya ka’🙂
    Yang di tupperware ntuh kripik bayam kaka’, dirumah suka bgt ama bayam, jadi biar ndak jadi sayur bening doank dibuat, aku sring buat jadi kripik gitu, hehehe..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s