I Did It, Operasi Gigi Bungsu

Puji TUHAN, Puji TUHAN, akhirnya operasi gigi bungsu ntuh berhasil dilewatin juga(baca: I feel more than a surgery for pregnancy). Setelah beberapa tahun keluhan migraine dan telinga yang berdengung aku lontarkan,yang menjadi tersangkanya masih si gigi bungsu yang ndak bener letak dan posisi numbuhnya,aku belum ada keberanian juga untuk mencabutnya lewat operasi gigi bungsu. Namun setelah menikah niat kian hari kian bulat, karena aku pikir akan ada si hubbie(baca: panggilan pada suami dan hanya di blog doank :D) yang bakalan nemenin. Terakhir efek migraine ini ada dicerita ini.

Sekilas tentang gigi bungsu menurut wikipedia:

Gigi bungsu adalah gigi geraham ketiga yang muncul pada usia sekitar 18-30 tahun. Masalah yang ada kaitannya dengan gigi bungsu; Gigi yang berdesakan, Berhubung gigi bungsu tumbuh paling akhir, kadang-kadang rahang tidak memiliki tempat yang cukup untuk gigi bungsu tumbuh dengan wajar. Akibatnya gigi bungsu mendesak gigi geraham yang berada di depannya. Hal ini akan mengakibatkan sakit pada gigi dan Gigi yang tidak muncul sempurna, Terkadang gigi bungsu tidak muncul dengan sempurna pada gusi. Gusi yang menutupi gigi dapat menyebabkan penumpukan sisa makanan dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi dan sakit pada gigi.

Solusi untuk gigi bungsu yang bermasalah ini adala pencabutan atau operasi gigi bungsu. Mengapa harus operasi bukannya hanya pencabutan gigi? Awalnya aku juga berpikiran seperti itu, tapi ternyata setelah banyak membaca dari berbagai sumber di internet dan berkonsultasi dengan beberapa dokter gigi, ternyata gigi adalah salah satu bagian tubuh yang sangat perpengaruh, karena banyak berhubungan dengan saraf-saraf diseluruh tubuh, terlebih dengan gigi bungsu,sehingga harus dilakukan dengan cara yang lebih detil lebih dari mencabut gigi lainnya.

Sewaktu masih di Jakarta, aku sudah beberapa kali melakukan konsultasi dengan dokter gigi, bahkan pernah saat belum tahu bahwa penyebab utamanya adalah gigi bungsu ini, aku mengalami telinga yang mengdengung dan panas sepanjang hari, aku ke Rumah Sakit THT Proklamasi, dan bertemu dengan dokter telinga, dengan hasil DITERTAWAI oleh si dokter, dengan santainya dia bilang “Kamu ini udah gede, udah kerja, tapi ndak tau penyakitnya apa, wong ini karena gigi kamu ko’ malah datang ke dokter THT, piye toch ndhuk?“, dan aku hanya terdiam. Bahkan gigi aku sudah pernah di foto, disinilah aku tahu betapa kacaunya semua gigi bungsu ku, tapi karena belum punya keberanian untuk operasi, aku biarkan sampai disitu saja.

Setelah hubbie juga melihat keluhanku migraine dan telinga berdengung itu, dia membujukku untuk operasi gigi bungsunya, jadi sedikit demi sedikit aku niatin bertemu dokter gigi(baca: kaya’nya bukan aku doank ya, yang kalau ketemu dokter gigi bawaannya lemas). Waktu itu hubbie lagi tugas ke Palembang jadinya aku sendiri ke dokter gigi, konsultasi sebelum operasi, berhubung di dekat rumah di simalingkar ada, aku pergi kesana. Ternyata dokternya wanita, dan saat masuk semua desain ruangan dokternya pink, sampai-sampai kursi untuk pasiennya yang paling ditakuti orang juga warna pink(baca: for the first time I found as this). Blablabla..ngobrol ama si dokter, akhirnya disuruh ronsen lagi, karena foto ronsen ku dari Jakarta lenyap ntah kemana. Biaya konsultasi ama si dokter Rp. 30,000 dan katanya operasi per 1 giginya disitu Rp. 1,000,000 and it’s totally quite cheap for a wisdom tweet surgery. Tapi aku ngerasa ndak klop dengan ini dokter, dia terlalu cux dalam ngejelasin dan kasih nasehat, ok..untuk itu namanya aku hidden😀.

Setelahnya aku ronsen ke PRAMITA di jalan Diponegoro depan kantor DEPKEU😦 (baca: tempat impian yang tertunda, ini ceritanya), aku kesana masih sendiri karena hubbie masih di Palembang. Prosesnya hanya sekitar 1 jam dari mulai administrasi, foto sampai menunggu hasil ronsennya. Biaya untuk ronsen gigi ini Rp. 100,000. Hasil ronsen ini yang nantinya akan digunakan oleh dokter yang akan melakukan pembedahan sebagai referensi bagaimana cara dan teknik bedahnya.

Esok harinya cerita-cerita ama temen-temen di kantor, dan muncullah 1 nama dokter yang di rekomendasikan, namanya drg. Tulus Pasaribu yang prakteknya sehari-hari di RS. Pringadi, Medan dan sorenya di RS. Herna, Medan. Berhubung aku bisanya bertemu dan konsultasi dengan si dokter after office hour , jadilah aku berangkat ke RS. Herna and (still) all by myself  (baca: hubbie dukungnya dari jauh dengan telfon dan smsnya).  Begitu ketemu si dokter, langsung pengen bilang “My Typeeeeee”, wakakka…. *self toyor*. Perawakannya rapih, ganteng, family man dan dewasa(baca: Ini sebelum dia ngomong apa2), dan *pingsan setelah dia ngomong tentang keluhanku dan menjabarkan segala sesuatunya setelah melihat foto ronsen gigi ku, ahhahhaa.. Pinter banget dan bijaksana banget ngomongnya, inilah namanya Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama *PLAKKKKKKK* *sadar moris sadar*.

Ternyata hasil konsultasi dengan si dokter ganteng dan pinter, ada 3 gigi bungsu ku yang abnormal. Satu tumbuhnya nendang pipi, satu lagi ngedorong gigi sebelahnya dan terakhir ndak tumbuh keluar, dia tertanam di dalam gusi, dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata, hanya dengan ronsen. Begitu juga dengan migraine yang menurut aku adalah sumber utama dan satu-satunya adalah gigi bungsu ini, ternyata belum tentu, sehingga tidak ada jaminan bahwa setelah gigi bungsu ini dioperasi makan migraine ku akan hilang seketika, bukan..karena penyebab migraine itu banyak, namun posisi gigi yang abnormal merupakan salah satunya. Demikianlah ilmu baru yang aku dapatkan dari drg. Tulus Pasaribu *wink🙂.

Akhirnya janji pun dibuat dengan si dokter, Sabtu. 14 Juli 2012, jam 09.00 di RS Pringadi, Medan. Berhubung di rumah ndak sempat sarapan, jadinya aku dan hubbie sarapan di KFC deket RS, daripada kena marah ama si dokter karena udah diingetin sebelumnya harus sarapan sebelum di operasi. Begitu sampai di RS. Pringadi dan ini pertama kalinya aku dan hubbie kesini, jadi tanya-tanya dimana ruangan praktek drg. Tulus Pasaribu, dan saat ketemu tanpa basa-basi si dokter langsung suruh duduk di kursi pasien, padahal sebenernya aku kebelet pipis lho dok *Pengakuan*. Tiba-tiba 2 orang suster datang membantu si dokter pakai perlengkapannya dan menyiapkan beribu-ribu alat2nya, ada gunting, pisau, jarum, akh..mengerikan seperti bener-bener di film-film ntuh kalau mau operasi, belum lagi lampu gede yang persis ada diatas mulutku, seremmm…

Langkah pertama yang dilakukan si dokter adalah mengolesi betadine kegusi yang akan dicabut giginya, kemudian membius lokal gusinya, dan aku disuruh kumur, namun saat kumur aku ngerasa mual karena obat bius dan betadine sebelumnya, akhirnya aku muntah-muntah dan ngeluarin semua makanan yang aku santap saat sarapan pagi itu. Alhasil diomelin ama si dokter “Kamu baru sarapan ya? sarapannya buat 3 hari? takut ndak bisa makan 3 hari ya? kalau udah diniatin mau operasi yang kuat donk“, Astajimmmm..si dokter kejam amat pikirku, eh tapi si hubbie menghampirin dan ngomong yang sama “Ayo donk de, itu ajah ko’ langsung muntah, kaya’ anak kecil ajah“, rasanya pengen nangis dibilang gitu ama mereka. Akhirnya aku kuatin diri aku sendiri harus bisa dan berdo’a minta TUHAN YESUS temanin aku dan jamah tangan dokter serta para suster yang membantu.

Akhirnya si dokter menyuntikkan obat bius digusi ku untuk beberapa kali, dan berusaha mencabut gigi bungsuku yang lumayan tersembunyi letaknya dan aku tetap tenang dan ndak muntah lagi walau melihat alat-alat si dokter ada didalam mulutku, si dokter bilang “Angkat tangan kiri kalau sakit“, dan aku niatkan untuk ndak terlihat lemah lagi. Aku melihat benang jahitan buat gigiku melintas diatas kedua bola mataku yang indah, dengan mudahnya si dokter menjahit gusi ku dan aku pun tak merasakan apa-apa, cuma dalam hati merasa kengerian yang luar biasa, tapi sampai selesai prosesnya ndak sekali pun aku mengangkat tangan kiri ku seperti apa yang diinstruksikan si dokter, yeahhhh.. I did it.

Ok, kelar..bisa duduk kembali disana“, kalimat dokter yang masih membuatku bingung, “Apa..? udah kelar dok?” tanya ku tak percaya, padahal dalam hati selama operasai, kapan kelarnyaaaaaaaa…?. Setelah selesai, aku membayar biaya operasi tersebut sebesar Rp. 1,500,000 dan dikasih resep oleh dokter tulus buat ditebus di apotik RS. Ada 3 jenis obat, yaitu 1 Antibiotik dan 2 obat penahan rasa sakit. Total biaya untuk menebus resep obat tersebut sekitar Rp. 250,000 , hmmm…quite expensive hu’h. Sebelum pulang si dokter kasih kapas dengan kassa dan betadin untuk mengganjal gusiku yang baru diambil giginya katanya untuk mencegah  pembuluh darahnya yang kebuka agar ndak pecah. Aku serasa menggigit permen yang ndak abis-abis dan pahit bgt. Dan ada beberapa pesan si dokter terkait setelah operasi gigi bungsu ini:

1. Jangan berkumur atau menyikat gigi selama 24 jam setelah operasi

2. Obat antibiotiknya harus dihabiskan, dan 2 obat lainnya bisa dihentikan kalau sudah tidak sakit

3. Hindari minuman panas atau hangat, kalau bisa minum air es agar pembuluh darahnya cepat pulih

4. Setelah 24 jam, sikat gigi pelan saja, kalau boleh bagian gigi sebelah gigi yang dicabut tidak usah

Begitu sampai di rumah, aku langsung tertidur sampai 3 jam, dan mungkin obat biusnya habis saat aku tidur, jadi saat bangun obat biusnya sudah habis tapi ndak terasa sakit banget. Siangnya aku makan hanya beberapa butir nasi, dan menyaksikan hubbie makan pecel ayam-nya dengan nikmatnya, sedangkan aku hanya menikmati 1 gelas jus alpukat karena mulutnya masih ndak bisa terlalu lebar kebukanya. Tapi aku bersyukur banget, semua proses itu berjalan dengan lancar dan baik-baik saja, smoga memang setelah operasi gigi bungsu ini si migraine ntuh pun pergi ntah kemana dan ndak akan kembali lagi🙂.

Tampang Baru Keluar Ruang Operasi

Terakhir Thanks so much for drg. Tulus Pasaribu yang membantu mengambil si gigi ‘nakal’ ntuh, thanks for my dearest hubbie for your best support and prayer, especially for my greates Christ Jesus for taking care of me.

9 thoughts on “I Did It, Operasi Gigi Bungsu

  1. “I feel more than a surgery for pregnancy”… ah seriuslah sis, dah pernah ngerasain itu emangnya? hahahhaa….. semoga si migrain hilang dan diganti dengan si pregnant :p

    Like

    • kata orang sakit sister, dan walaupun belon pernah dan jangan ampe pernah, maunya normal klo lahiran, AMIN😀, udah kebayang aku gmn sakitnya sister🙂

      Amin..Amin.. Udah ndak sabar buat postingan cerita tentang Pregnancy , hehehhee..

      Like

  2. sis lngsng operasi 3 gigi bungsu dlm 1 hari ya??
    sy dah 3 hri dri operasi tp masi terasa sakit n nyeri…makan pun susah..pdhl perut keroncongan loh sis..menderitanya…bole tau sis konsumsi apa2 aja yg bs bikin keyang trus..hehe

    Like

    • hahahaa..ndak sist, cuma 1 gigi ko’, dokternya ndak rekomendasi langsung 3 karena ntuh dari 2 sisi, ntar ndak bsa makan😀.
      Emang sist cabut brp gigi? kemaren aku minum jus alpukat atau jus yang aku suka biar tetep ajah yang masuk, seminggu wajarlah🙂, semangattt

      Like

  3. Salam kak. Tanya dong… setelah cabut gigi bungsu butuh berapa lama sampai telinga berhenti berdengung? Itu yg saya alamai. Kepala pusing sampai ke pundak plus telinga berdengung bersamaan dg tumbuhnya gigi bungsu. Trimakasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s