Bye Schoolarship (For Now)

Sejak pacaran dulu, aku udah dikasih tahu dan tahu apa impian serta cita-cita pacarku saat itu dan suami ku saat ini, dan menurut aku sendiri juga kalau dia tipe orang yang ambisius untuk mencapai segala sesuatu yang dia impikan. Banyak hal yang dari sejak pacaran dia udah kasih gambaran ama aku, seperti apa dia nanti dalam dunia kerjanya, dalam kehidupannya dan ndak heran setelah menikah hal2 tersebut satu per satu terealisasi. Contohnya adalah dari dulu hubbie udah kasih tau kalau dia lebih suka kerja dilapangan (baca: ke proyek langsung daripada dikantoran) dan kenyataannya dari awal nikah, udah sering ditinggal tugas kelapangan,hahahaa….

Udah dech ampe situ ajah cerita awalnya, lanjut dengan cerita intinya *benerin posisi duduk. Salah satu ambisi hubbie lagi adalah lanjut kuliah ambil master(baca: kalau ini sich aku juga berambisi, hahaha..), dan tahun lalu ada kesempatan untuk mencoba beasiswa dari institusi dimana hubbie bekerja saat ini. Dengan semangat ’45 tentu aku ikut ngedukung nya untuk mengambil kesempatan itu. Aku bantu mulai do’a dan mulai ngecek pengumuman dari awal tes, ampe refresh2 web perhubungan umum setiap 30 menit karna penasaran dengan hasil ujian verifikasi data2 hubbie untuk pertamanya sampai menyampaikan hasilnya LULUS ama hubbie, sungguh excited rasanya.

Ketahap ke-2 ternyata pengumumannya ada penempatan lokasi ujian, begitu tahu lokasi ujian hubbie dengan secepat kilat aku langsung cari tiket buat keberangkatannya, walau sebenernya ingin berangkat bareng (baca: sekalian jalan2 :D), tapi berhubung kondisi badan dengan hamil muda ndak memungkinkan akhirnya hubbie berangkat sendiri ke Aceh, tempat ujiannya. Saat menunggu pengumuman ini bener2 melatih kesabaran aku dan hubbie, dari tanggal yang dijanjikan untuk mendapatkan pengumuman hasilnya tak kunjung muncul.

Dimasa-masa menunggu pengumuman ntuh, hubbie suatu saat bertanya ama ku;

Hubbie    : “Sebenernya kamu berharap aku lulus atau ndak?”
ME           : “Ko gitu nanyanya?”
Hubbie    : “Yah..nanya ajah”
ME            : “Apapun keputusan TUHAN, aku ikut ko” (tersenyum)
Hubbie    : “Kan aku tanya dari kamunya, bukan TUHAN”
ME            : “Ya itu, apa kata TUHAN, aku seneng ajah”
Hubbie    : “Ehmmm..aku mencium aroma ketidakinginanmu aku lulus” (tertawa)
ME            : “Idihhh..seuzon” (pura-pura ngambek)

Sekilas percakapan ntuh biasa ajah, antara senda gurau, tapi sebenernya aku mulai memikirkannya, dan langsung memikirkan the worst case kalau hubbie lulus dan pergi sekolah lagi dipulau jawa itu, kebayang aku bakal ditinggal lagi dengan kondisi hamil seperti ini. Sampai akhirnya pengumuman itu keluar dan aku melihat nama pria yang sangat ku kasihi itu ada didalamnya. Tanpa ragu-ragu air mata pun mengalir dipipiku saat aku mengetikkan sms buat hubbie ngabarin kalau dia lulus dan harus berangkat lagi minggu depannya untuk daftar ulang ke kampus karena perkuliahan akan dimulai bulan depan.

Bagaimana mungkin secepat itu????? rasanya berat bgt, kebayang bakal ditinggal dengan kondisi kehamilan dekat dengan due date dan bakal ditinggal ke pulau yang berbeda selama 2 tahun juga, tangisku ndak tertahankan siang itu dan aku puaskan ditoilet kantor. Setelah puas nangis, aku terdiam dan berdoa menyadari keegoisanku, ini mimpi hubbie, kenapa aku harus memaksakan keinginanku sendiri ampe menghalanginya mencapai mimpinya? aku tekatkan untuk iklas dan tetap ngedukung hubbie ambil beasiswa itu.

Belum lama berselang aku membulatkan telat itu, kembali nerima sms dari hubbie;

Hubbie   : “Diambil ndak beasiswa itu ya de?”
ME           : “Ko nanya lagi?”
Hubbie   : “Iyah..bingung eyan jadinya”
ME           : “Kan eyan pengen emang lulus kan?”
Hubbie   : “Iyalah, tapi nanti echa ama si dedek gimana?”

Aku ndak bales lagi smsnya, karena aku takut apa yang akan aku tuliskan di sms ku akan menjadi batu sandungan buat hubbie, aku harus melawan ego ku, kataku pada diriku sendiri. Waktu dijemput pulang kantor, aku berusaha tersenyum dan memuji hubbie yang bisa lulus ujian beasiswa itu, sampai akhirnya dirumah tepatnya dikamar sebelum tidur hubbie membicarakannya kembali, aku ternyata masih egois dan meminta agar pembahasan topik itu esok hari karena aku ngantuk bgt dan memang aku ngantuk bgt karna mungkin capek nangis siangnya dikantor.

Esoknya, aku beranikan diri bahas tentang itu lagi dan tenyata semaleman hubbie sudah memikirkannya dan keluarlah pernyataan yang membuatku ingin melonjak kegirangan dan teriak sukacita:

“Eyan ndak jadi ambil beasiswanya dek, saat ini prioritas eyan itu echa dan dedek dan apapun saat ini eyan harus lakukan yang terbaik buat echa dan dedek. Kalau Tuhan berkenan, akan ada kesempatan lain yang jauh lebih baik dari kesempatan itu yang Tuhan kasih kembali buat keluarga kita.”

Nyesssssss….aku langsung peluk hubbie tanpa sadar perut kami ketemu (baca: sama2 buncit sich), dan menangis dipundaknya, terharu, bahagia, sukacita sambil mengirimkan do’a syukur dan minta Tuhan sediakan kesempatan lagi buatnya. Ternyata ndak sampai situ sukacita ku, pulang kantor dapet berita bahagia kembali dari hubbie, ternyata saat mengutarakan niatnya untuk menunda beasiswa ntuh, ternyata atasan hubbie mempromosikan hubbie untuk posisi yang lebih baik dari yang saat ini, couldn’t ask for more and can’t say THANKING GOD enough for everything.

Tuhan memang ndak pernah menjijikan selalu ada matahari, tapi Tuhan selalu ada saat ada dan tidaka da matahari, akan selalu menyertai, Thank you GOD, Thank you Hubbie, You both are my everything.

4 thoughts on “Bye Schoolarship (For Now)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s