Hidup ku di Medan

Wow…judulnya bener-bener menantang ya, hihihi.. Sebenernya udah lama aku pengen buat postingan ini, tapi lagi-lagi alasan klasik seorang moris adalah lupa dan tulis dikit, save as draft, ndak kelar-kelar dech🙂. Tapi rasanya udah ndak bisa ditunda-tunda lagi ini harus diselesaikan saat ini juga, karena ndak sabar bilang ama dunia, seperti apa kehidupan ku setelah diputuskan akan ikut suami menetap di kota yang dari kecil sungguh amat sangat ndak ku suka ini, tapi yah…TUHAN selalu punya rencana lain, yang ndak bisa kita tolak, dan satu yang pasti akan rencana ntuh, pastilah yang terbaik, yup..semua yang berasal dari TUHAN adalah yang terbaik🙂.

Tak terasa, ternyata udah hampir setahun yang lalu aku akhirnya pergi dari kota yang udah mengajari ku banyak pelajaran hidup selama kurang lebih 7 tahun, dan akan tetap menjadi kota favorit ku, Jakarta. Kota dimana aku bisa mandiri dan bertahan hidup dengan usaha ku sendiri, yang membentuk aku menjadi seperti apa aku saat ini, dan tentunya yang membawaku menjadi lebih dekat dengan TUHAN ku, karena tanpa keluarga yang ada disampingku, semakin membuatku sadar, kalau penyerahan hidupku hanya pada TUHAN.

Ndak gampang memutuskan untuk pindah, dan meninggalkan orang-orang luar biasa yang selalu ada berasama ku saat suka dan duka dikota sebesar Jakarta, sampai dengan detik-detik terakhir perpisahaan dengan mereka, masih ndak percaya dan berat namun keputusan udah diambil dan TUHAN udah berencana, jadi tetap dijalanin🙂. Walaupun mereka masih ragu seperti apa nantinya hidupku di kota baru tempat aku merangkai kehidupan rumah tangga ku nantinya, tanpa orang-orang yang selama ini ada dikelilingku, yang sudah sangat aku kenal baik, tapi tujuan aku pindah adalah untuk bersatu yang orang yang sangat aku sayangi, yang udah aku percayakan kebahagiaan ku padanya dan sebaliknya, jadi alasan pertama dan utamanya saat itu adalah karena SUAMI bisa ada dikota Medan ini.

Lalu bagaimana ternyata kehidupanku dikota ini? Flashback 11 tahun yang lalu saat aku mencoba UMPTN – Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri (baca: saat itu masih UMPTN dech namanya) aku tinggal dengan saudara selama 3 bulan. Alasan hemat dan bisa dipantau yang membuat aku harus tinggal ditempat saudara, namun ternyata seperti dugaan semua orang, tinggal dirumah saudara itu banyak hal yang harus dijaga, bahkan sampai mengorbankan waktu belajar juga, yah..itulah yang aku alami saat 3 bulan itu, dan ada bebrapa hal lain yang membuat aku berdoa dan berencana untuk lulus UMPTN dan ndak akan memilih salah 1 universitas yang ada di Medan, namun karena alasan ‘persahabatan’ dengan teman-teman ku saat itu, aku tetap memilih 1 universitas di Medan ini, dan yang lulus adalah pilihan itu (baca: saat itu aku masih berpikir kalau untuk kuliah, aku akan minta dispensasi ama MA’eee dan PA’eee yang masih hidup saat itu untuk tinggal sendri ndak bareng keluarga itu lagi.

Tapi ternyata permintaan itu ditolak oleh keluarga, jadi intinya aku harus tetap tinggal dirumah saudara itu, rasanya hancur, rasanya sedih, karena selama 3 bulan pun aku udah ngerasa ndak betah, apalagi harus 4 tahun kedepan. Aku berdo’a dan berdo’a minta TUHAN buka jalan, bawu aku keluar dari situasi itu dan memang TUHAN ku ajaib dan luar biasa, walau sudah membayar semua kewajiban untuk mahasiswa baru dan udah ngikutin 3 hari OSPEK (baca: masa orientasi), ada universitas diluar kota yang sebelumnya aku coba memanggilkan untuk bergabung, dan sejujurnya aku ndak tau ini universitas apa, tapi aku langsung minta untuk kuliah disana ajah, dan keluarga setuju, Puji Tuhan akhirnya aku keluar dari kota ini, Medan.

3 tahun kuliah dikota kecil atau bisa dibilang kampung, tapi kualitas kampus yang luar biasa membuatku lupa ama Medan. Setelah lulus aku langsung merantau dengan kemampuan yang aku dapat dari kampus, untuk memulai hidup mandiri dan mencari nafkah, di Jakarta. Sampai 5 tahun pertama aku masih ndak ada bayangan akan dimana nantinya aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang akan aku panggil suami dan anak2ku nantinya, karena memang aku juga ndak punya rencana akan menghabiskan sisa hidupku di Jakarta, oh tidak..cukuplah Jakarta mengajarkan ku bagaimana arti hidup dan cara bertahan hidup,  setelahnya ingin ketempat lain.

Tibalah waktunya, si pacar yang saat itu sudah menjalin hubungan sekitar 7 tahun dengan ku penempatan terakhirnya di tempat pekerjaannya adalah Medan, dan saat itu kita  sudah merencanakan pernikahan, dan ndak bisa dipungkiri akulah yang harus mengikut dengannya, so..siap-siap lah aku ikut tinggal di Medan.  Satu-satunya alasan yang membuat aku ndak akan tinggal di Medan saat ntuh yah ndak bersedia untuk menikah dengan calon suami ku(baca: panggilan saat ntuh), tapi ndak mungkinlah, aku percaya ajah aku bahagia, saat ada bersama orang yang aku tahu dan percaya membawa kebahagiaan buat ku, dan akhirnya seperti keputusanku saat itu, mulailah aku hidup di kota baru tapi lama dan punya sejarah ‘kurang enak’ dengan ku ini.

Namun, walaupun sudah hampir 1 tahun ada di kota ini, aku belum menemukan ‘kenyamanan’ itu. Jangankan sahabat, bisa dibilang teman yang bisa ‘se-ide’ atau bisa berbagi pun seperti masih aku belum bisa temukan. Hari-hari yang aku jalanin sepertinya hanya rutinitas, rumah-kantor-rumah atau sesekali jalan keluar atau hang out, tapi dengan siapa aku? dengan hubbie doank pastinya. Padahal hubbie sangat amat sering keluar kota, dan tinggallah aku sendiri yang seharusya saat ndak ada hubbie bisa pergi keluar dengan teman-teman atau sahabat lainnya, tapi kenyataannya? ndak ada sahabat, atau teman yang bisa aku ajak, alhasil ndak kemana-mana.

Walau sesekali aku pergi dengan adik kelas ku Kristina yang udah seperti adikku sendiri, tapi itu pun kalau dia datang dari luar kota ke Medan, dan itu paling beberapa x selain itu ndak ada dan ndak pernah, betapa sedihnya. Belum lagi menghadapi kekacauan lalu lintas Medan dan orang-orangnya yang sebagian besar masih membuat shock apalagi dengan orang-orang yang masih lebih suka pakai bahasa planet mereka dari pada pakai bahasa nasional, ntahlah apa gambaran kehidupan yang aku hadapi selama kurun waktu hampir 1 tahun ini, GOD…I’m tired of this, actually.

Jadi kalau aku sering buat postingan tentang hubbie, tweet tentang hubbie, dan dimana-mana posting foto dan cerita tentang hubbie, itu bukan karna aku terlalu pamer karna punya suami, tapi karena hanya hubbie sahabat dan teman terbaik ku di kota ini dan satu-satunya orang yang membuat aku bertahan di kota ini, itu hubbie. Ada saat-saat aku sedih dan kangen ama sahabat2 ku yang jauh disana dan ingin bertemu mereka, tapi karena saat ini aku memang ndak bisa perjalanan jauh, jadi aku tahankan ajah rasa kangen ini, tapi tetap sering berkomunikasi dengan mereka lewat media sosial dan media komunikasi lainnya.

Ndak sabar punya sahabat lain di kota Medan ini, siapa lagi kalau bukan Our Soon To Be, karena memang aku ndak ngarep punya sahabat pengganti sahabat2 ku di Jakarta sana, karna ndak akan aku temukan seperti mereka, tapi ndak menutup kemungkinan aku akan bertemu 1 atau 2 disini, walaupun belum tahu kapan ketemunya😦.

9 thoughts on “Hidup ku di Medan

  1. “bukan karna aku terlalu pamer karna punya suami, tapi karena hanya hubbie sahabat dan teman terbaik ku di kota ini dan satu-satunya orang yang membuat aku bertahan di kota ini, itu hubbie… ” cukak deh sama kata-katanya, to twiiit😀

    Like

  2. Pingback: 1st Year of Our Journey | WE'RE BLESSED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s