Anakmu bukan Anakmu

Kemaren, adalah hari pertama aku kembali ke kantor, setelah cuti akhir tahun, sampai aku membuka salah 1 email yang biasa aku gunakan dan dapatlah 1 email yang dikirimkan oleh Rumah Inspirasi sebagai salah 1 referensi aku belajar menjadi orang tua yang lebih update🙂 dengan judul sama seperti judul postingan ini.

Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap
Itulah satu puisi karya Kahlil Gibran, seorang pujangga awal abad ke-20 yang lahir di Libanon. Dengan membaca berulang kali puisi itu aku diingatkan bagaimana seharusnya aku “memperlakukan” anak ku. Memiliki anak itu ANUGERAH, namun menjadi orang tua itu PILIHAN, pilihan yang kita ambil dan mampu menjadi ROLE MODEL bagi anak(anak) kita, kalau memang tugas sebagai orang tua ndak bisa kita jalankan dengan baik dan ndak bisa mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan orang tua, kenapa memilih menjadi salah 1-nya?
Aku pribadi memilih menjadi orang tua yang selalu pengen tahu, yang selalu pengen belajar banyak, yang selalu ingin bisa banyak melakukan dan mempersiapkan yang terbaik buat anak(anak) ku saat ini dan kelak, Happy Mom, Happy Dad, Happy Child(ren), Happy Family

2 thoughts on “Anakmu bukan Anakmu

  1. aku udah pernah baca puisi ini juga sis, benar sih… kadang2 ada juga orang tua yang suka “memaksakan” kehendak kepada anak, termasuk akan jadi apa si anak di masa depannya. misalnya ortunya pengen si anak jadi dokter, padahal si anak lebih suka jd seniman, ya gitu-gitu deh😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s