It’s 31, Dearest Hubbie

Suami ku

Setelah mengenalnya dalam masa penjajakan selama kurang lebih 8 tahun, aku menerima memintanya untuk segera melakukan   pinangan dan berjanji sehidup semati dengannya dihadapan TUHAN, keluarga serta sahabat kami. Memasuki usia pernikahan ke-3 ini, aku masih belajar mengerti dan belajar melakukan yang terbaik untuk-nya. Dia yang menjadi imam dikeluarga kecil kami, yang selalu “melindungi” dan “memberikan” yang terbaik yang dia punya hanya untuk kami.

Menjadi suami dan menjadi pacar itu berbeda, iya..berbeda ya saudara seiman, saat menjadi pacar, mau ketemuan ajah senengnya minta ampun, setiap ketemuan pasti bawaannya rapih, wangi, kece, kalau sms-an atau telfonan pengennya lama2 dan mesra2, apa2 maunya sacrifice buat pasangan. So how about marriage? yah..TERIMA APA ADANYA yaaa…artinya pacarannya palsu donk? ndak juga sik, namanya juga belum milik 100%, so..do your best dan stelah sah jadi milik 100%, this is my best, hahaha… *curcol

20150114_071056[1]

Sahabat ku

Kembali ke kota ini dengan status yang berbeda, lingkungan yang berbeda, orang-orang yang berbeda, rutinitas yang berbeda, yang dari awal dan sampai saat ini bukan tidak bersyukur, tapi belum bisa “membuat” ku BANGGA menjadi bagiannya, aku tetap pertahankan hanya karena alasan seorang anak manusia ini, satu-satunya sahabatku dalam 3 tahun tinggal dikota ini.

Satu-satunya orang yang tidak pernah membuat ku “ragu” atas persahabatan kami. Sahabat itu adalah orang yang selalu ada buat ku, menerima ku apa adanya walau kadang-kadang banyak hal dari dirinya membuat aku geram, tapi aku bersyukur dia juga selalu menerima segala kekurangan ku, yang pastinya tak ada 1 orang diluar sana yang mampu seperti itu terhadapku. Setiap ada keluh kesah di dalam diriku, orang yang pertama yang ingin aku beri tahu itu adalah dia, begitu juga dengan sesuatu kabar sukacita, dialah orang pertama yang harus tau.

Saat aku salah, sahabat ini pasti bilang aku salah, saat aku benar, sahabat ini kadang2 pasti bilang aku benar, dia tau semua “sisi baik ku”, tapi dia juga yang paling tahu semua “sisi buruk ku”, tidak ada rahasia yang tersembunyi diantara kami, kejujuran satu sama lain even itu hal yang tidak mengenakkan buat ku, tetap aku terima, karena seperti itulah seharusnya seorang sahabat

20150114_070339[1]

Bapak ku

Aku ndak punya saudara kandung laki-laki, satu-satunya lelaki yang ada dihidupku sampai usiaku 20 tahun adalah Bapak, hingga saat aku menerimanya menjadi kekasihku, aku punya 2 sosok laki-laki didalam hidup ku. Sampai akhirnya TUHAN memanggil Bapak untuk kembali pada NYA, dan aku hanya punya 1 sosok laki-laki dimana didalam dirinya, banyak hal dan kesamaan seperti sosok sang Bapak sewaktu hidup, dan dia yang menjadi tempat ku mengadu saat aku butuh sosok seorang Bapak, layaknya seorang anak bercerita dan melumpahkan semuanya pada sang Bapak.

Lelaki yang paling “nyaman” pada semua insan manusia, pastilah bapak (baca: kecuali sang bapak dalam kondisi tidak menjadi bapak *literally), dan pria ini dari awal aku kenal dan setelah beberapa kali bandingkan dengan pria-pria lain diluar sana, adalah orang yang paling “nyaman” yang bisa aku percaya mampu membuatku “betah” saat bersamanya, thank you…

Guru ku

Kami berasal dari latar belakang yang berbeda, baik itu keluarga, lingkungan, pendidikan bahkan tidak jarang kalau pemikiran kami pun berbeda. Tidak jarang hal-hal yang sangat sangat kecil kadang menjadi hal yang besar diantara kami, karena perbedaan itu. Tidak bisa ku pungkiri, dia lebih cerdas dari aku, dia lebih banyak tahu dari aku, dia lebih “mengerti” dari pada aku, aku belajar banyak dari dia, walau kami lahir di tahun yang sama, tapi aku banyak belajar dari dia, walau dengan caranya yang “keras”, namun justru hal itu yang bisa mengingatkan cocok dengan ku, karna dengan kelembutan, kadang aku “tidak mengerti”

Dear Hubbie,

Can thank GOD enough for sending you in my beautiful life, you are a beautiful blessing, indeed.

I’ve known you for almost 11 years, and this is the 10th time, we celebrate your birthday together.

Happy Birthday, Dearest Hubbie…

I wish you all the very best, and my best prayer is the biggest gift from me to you.

Please, stay Healthy, keep your leadership in our little family and stay in GOD’s path.

Sincerely,

Your Wifey

4 thoughts on “It’s 31, Dearest Hubbie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s