Jaga Ucapan mu

Beberapa waktu lalu aku dimasukkan di sebuah grup whatsapp yang ternyata adalah grup orang-orang komplek rumah kami, ya..setelah beberapa tahun tinggal di rumah(Medan) itu, baru masuk di grup (baca: gak tahu juga apa memang aku yang baru dimasukkan, hahaha..). Jadi setelah aku baca isi pesan yang ada di grup itu ternyata karena ada hal yang ingin di diskusikan dengan semua penghuninya untuk tujuan bersama di komplek kita tinggal.

Tinggal di komplek tersebut udah sekitar 5 tahun tapi sejujurnya orang-orang yang ada di komplek itu kebanyakan orang sibuk yang bisa dibilang jarang sekali terlihat berkeliaran di komplek, tapi mungkin kita cuma kenal, walaupun ada beberapa tetangga yang suka nongkrong bareng di depan rumah seseorang tetangga dan biasanya waktunya malam, namun aku pribadi tidak pernah gabung, jangan ditanya kenapa aku juga bingung jawabnya kenapa. Cuma parahnya bertegur sapa juga bahkan bisa dibilang tidak pernah antar beberapa orang tetangga walau lewat karena seringnya lewat hanya tapi dengan kendaraan masing-masing, miris bukan? haha..

Long story short, setelah berkomunikasi yang di moderatori oleh seorang tetangga di grup itu ternyata ada hal yang sedikit “rame” diperbincangkan, namun berhubung aku memang sebelumnya tidak pernah tahu karakter masing-masing tetangga jadi lewat grup ini aku bisa menilai masing-masing tetangga itu dan yang membuat ide menulis ini juga, aku kaget betapa “mengerikannya” beberapa orang dari mereka berkomentar tentang seseorang, betapa bahasa yang mereka pakai sangat-sangat tidak sopan, bahkan ada yang mengeluarkan kata-kata kutukan untuk orang lain yang mereka komentari, benar-benar buat aku langsung mute grupnyaa, aku tidak leave karena memang ada hal yang aku harus ikutin progressnya di grup itu.

Aku memang seorang yang sangat overthinking, jangankan hal-hal yang rumit, untuk sekedar membalas pesan seseorang atau membuat komentar pada orang lain saja aku sering bgt memikirkan berulang-ulang agar kata-kata ku tidak salah arti atau tidak menyakiti orang yang membacanya, terutama orang yang bersangkutan, karena aku juga tidak mau kalau ada orang lain yang melakukan hal begitu ke aku. Kadang walaupun aku kurang suka dengan kata-kata orang yang mungkin sengaja atau tidak sengaja ngomong yang kurang mengenakkan pada ku sebisa mungkin aku tetap balas dengan baik agar dia tidak sakit hati dengan balasan ku, walaupun aku sudah sakit hati sebelumnya..

Tapi memang kita tidak pernah bisa mengatur atau mengendalikan apa yang orang lain mau ucapkan atau komentarin, yang bisa aku pribadi cuma bisa mengendalikan diri ku sendiri dengan seperti apa reaksi ku pada hal yang terjadi. Aku bukan siapa-siapa mendapatkan komentar atau balasan tidak enak dari orang lain yang mungkin bisa di hitung jari saja suka sedih kalau ingat kejadiannya, kadang aku gak habis pikir gimana perasaan para artis atau selebgram yang mungkin hal-hal seperti itu udah seperti makanan sehari-harinya ya.

Kenapa manusia di muka bumi ini tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang positif saja?

Kenapa manusia di muka bumi ini tidak bisa ikut berkomentar yang membuat orang yang dituju cerah ceria saat mendengar atau membacanya?

Kenapa manusia di muka bumi ini tidak bisa sedikit berempati saat berkomentar tentang orang lain, jikalau mereka ada di sepatu orang yang mereka komentari?

Kadang ada rasa bersyukur aku tidak dekat dengan orang-orang seperti yang berkomentar yang tidak baik di grup komplek ku itu, kalau tidak pelan-pelan aku pasti sama seperti mereka. Walaupun ada beberapa orang yang masih seperti itu dilingkaran luar pertemanan ku di media sosial, tapi biasanya aku akan berkurang instensitas berkomunikasinya dengan mereka, karena buat ku pribadi lebih baik menghindar dari hal-hal yang membuatku tidak menjadi lebih baik daripada aku menjadi seperti mereka. Semoga kita tetap menjadi orang yang menyenangkan tanpa harus merendahkan orang lain, dan tetap sukacita ketika orang lain sukacita dan lebih berempati pada orang lain sebelum berkomentar #selfnote

Petualangan Baru Kala Pandemik

Lima bulan sudah berlalu tanpa ada cerita apa-apa di sini, padahal realitanya begitu banyak cerita, tapi mungkin blog bukan lagi tempat bercerita yang bisa menampung semuanya, karena meluangkan waktu di depan laptop untuk menungkannya dibutuhkan konsentrasi dan waktu yang mumpuni untuk ku pribadi, hahaha.. tapi ndak salah di mulai untuk kembali menulis sedikit demi sedikit lagi.

Sekarang sudah Oktober, artinya sudah satu bulan kami pindah di daerah baru, ke tempat baru, memulai petualangan baru bersama keluarga kecil kami. Ceritanya setelah sekian lama tertunda, dan setelah sekian lama berusaha untuk ada di titik ini, akhirnya paksu sekolah lagi, yang mana sebelumnya ada 2 beasiswa yang dia dapat, dari OKP dan Australia Awards dan atas pertimbangan 1 dan lain hal, dia ambil yang Australia Awards yang mana adalah Split Site, artinya 1 tahun pertama akan mengikuti perkuliahan di Universitas dalam negri dan tahun berikutnya akan mengikuti perkuliahan di Australia, semoga lancar dan mendapatkan hal yang membanggakan sehingga bisa mendedikasikan kembali ilmunya kembali di instansi tempatnya bekerja demi kebaikan negara juga, hehe.

Jadi sebenarnya awalnya paksu memutuskan untuk ambil Australia Awards, kita tidak ada pemikiran mau ikut, karena anak-anak sekolah dan aku punya usaha lain yang memang bisa dikerjakan dari mana saja, jadi lebih kekebutuhan anak-anak, namun setelah dipertimbangakan dengan anak yang masih sekolah online, rasanya lebih baik kami tinggal di tempat yang sama, jadilah dalam waktu singkat kami harus mengatur semuanya. Mulai dari mencari tempat tinggal di tempat baru ini, menata barang-barang yang akan dibawa ke kota yang baru, menghubungi tempat sekolah untuk pemberitahuan kondisi anak, rapid test sebagai persiapan keberangkatan dan menjual tanaman-tanaman ku yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan, karena bisa saja orang yang menjaga rumah tidak bisa merawatnya atau bisa saja hilang(dengan maraknya pencurian tanaman saat ini).

Terus terang, saat memutuskan untuk ikut berangkat, aku mulai gak tenang, kuatir berlebihan karena melakukan perjalanan saat seperti ini dengan anak-anak yang masih kecil bukanlah hal yang mudah. Medan- Jakarta – Malang selama di hotel, bandara kita jadi benar-benar harus kontrol anak ketika berjalan, memegang apapun juga, melangkah dan berlari pun menjadi hal yang penuh perhatian lebih. Ah…kalau ingat saat itu, aku benar-benar tenang setelah kami melewati 14 hari tiba di kota ini dan semua sehat tidak ada gejala atau sakit apa pun, Puji Tuhan bgt..ndak ada yang bisa kami terlebih-lebih aku ucapkan untuk semua penyertaannya.

Satu bulan tinggal di kota ini, entah kenapa aku jatuh cinta pada kota ini, udaranya bersih, sejuk, orangnya ramah-ramah(yang aku temui), banyak tempat yang benar-benar disiplin untuk aturan yang sudah ditetapkan dan banyak tempat yang buat jatuh cinta pokoknya, ke bukit dekat, ke gunung dekat, ke pantai juga dekat, semenyenangkan itu. Disini pagi matahari muncul lebih cepat dan terbenam juga lebih cepat dan itu mempengaruhi pola kami di rumah ini, artinya bangun lebih pagi dan tidur lebih cepat tidak terlalu larut.

Semoga apapun tujuan kami datang ke kota ini, semesta mendukung dan terutama paksu bisa lebih bersemangat dengan kami ada disini sebagai pendukung utamanya dalam meraih cita-citanya. Dan semoga pandemik ini cepat berlalu agar semua bisa kembali normal dan lancar, sekolah paksu dan sekolah anak-anak dan kita tidak di hantui rasa takut berlebih lagi saat beraktifitas di luar seperti dulu.

8 Tahun Pernikahan

Ternyata hari ini 8 tahun sudah rumah tangga ini berlayar, semoga Tuhan mengijinkan hingga tua dan anak-anak jadi orang, kapal ini terus berlayar dan tetap mengandalkan Tuhan di atas segala-galanya, tidak masalah ada perbedaan pendapat, perselisihan dan adu argumen mulai dari volume 1 sampai 100, yang penting tetap ada cinta dan bersama-sama berjuang untuk mengarungi medan nya.

IMG_1362

Baru sadar, ternyata dari 8 tahun perjalanan pernikahan kami, aku cuma ada buat 1 kali postingan tentang anniversary nya, hahaa…tapi sepertinya di media sosial biasanya aku posting, hmm… media sosial emang selalu mengalihkan perhatian ya :D.

Kalau hubungan suami istri di rumah kami emang seperti yang ada di gambar atas, hahaha… kadang-kadang anak-anak bingung, kok mereka kaya’ kami(anak-anak) ya, ya sudahlah ya nak, begitulah akibar udah lama bersama, udah seperti abang adik emang, hihi…

Tuhan Berkati Kapal kami selalu, Amin..

Pura-pura Kuat

Hari ini mood bener-bener ndak mau bekerja sama untuk lebih ceria, untu lebih positif, untuk lebih menyenangkan dan semua kena dampaknya, ambyarrr…

Beberapa waktu belakangan aku memang menjadi pecinta podcast, ada beberapa yang menjadi favorit yang jelas aku dapatkan saat melihat Postcast Chart pada platform Spotify, dan salah satunya ada Rintik Sedu, setelah mencari-cari  media sosialnya akhirnya aku menemukan orang di balik layar podcast tersebut dan membaca timelinenya semenyenangkan mendengar suaranya di podcast, dan gambar di atas aku simpan dari salah satu twitnya.

IMG_1250

Aku termasuk orang yang sebisa mungkin memendam semuanya, menampilkan dan mempertunjukkan hal-hal yang membahagiakan, yang bisa membuat orang yang melihat dan membaca postingan ku merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Begitu juga di dunia nyata, ketika situasi memaksa aku harus menampilkan aku yang “kuat”, aku tidak pernah mempertunjukkan diri ku yang lemah, diri ku yang merasa seperti remah renginang, rapuh atau seperti butiran debu, kecil, tapi tidak dengan hari ini.

Hari ini aku mengabaikannya, aku benar-benar tidak sanggup untuk menampilkan aku yang kuat, aku tidak sanggup hadir dengan kepura-puraan ku yang kuat atau bahkan hadir dengan diri ku yang lemah. Aku diam, aku berpikir, aku mencari jalan keluar yang akhirnya terbersit untuk melakukan white lie, iya.. kebohongan untuk sesuatu kebaikan, kebaikan ku, bukan kebaikannya.

Hari ini, aku biarkan diri ku untuk menjadi lemah, tidak ada kepura-puraan T_T.

Gak usah ngototlah

Menjadi konsisten itu memang sulit, padahal masih hari kedua, tapi aku udah tidak sesuai jadwal bloggingnya hari ini, terdistraksi oleh sesuatu hal hari ini yang membuat to do list hari ini berantakan waktunya, namun sebelum hari ini berakhir, aku tetap mau menyeselesaikan semuanya hari ini juga, termasuk buat postingan hari ini.

catch

Sebenarnya bukan tahun ini ajah, tapi dari pertengahan tahun lalu juga udah kepikiran untuk tidak terlalu “ngotot” untuk hal-hal yang disebutkan di atas. To be honest, aku orangnya ekstrovert, yang suka keramaian, suka berteman, suka ngobrol  namun aku gak tahu kenapa beberapa waktu belakangan apalagi dengan kondisi ku saat ini, aku lebih merasa sering cuek dan bodo amat dan semakin lama apalagi mungkin efek dari aku baca buku “Filosopi Teras” tentang stoa(Aku ndak mau jelaskan ini di postingan ini, baca sendiri ajah bukunya :D), yang biasanya apa-apa aku ambil hati, baper adalah nama tengah ku dari sejak dulu, namun saat ini rasanya udah beda.

Sebelumnya, aku sering kepikiran untuk memberikan perhatian dan peduli pada orang-orang yang aku rasa dekat dan aku sayang, dengan sekedar menyapa walau hanya lewat whatsapp, kadang mendapat sambutan hangat namun ada juga yang mengacuhkan atau hanya menjawab apa yang aku tanya dan ada rasa tidak welcome dan bahkan ketika ada hal yang diperbincangkan tiba-tiba terputus hingga natal tahun depan juga tidak di balas. Saat ini mungkin aku masih melakukannya, namun hanya untuk orang-orang yang aku pedulikan dan kembali menyambut ku dengan hangat dan di satu waktu mereka juga menyapa ku kembali, untuk yang tidak seperti itu, maaf…saya tak peduli.

Suatu waktu aku melakukan interaksi dengan seseorang yang mungkin bisa dibilang bukan orang baru di dalam lingkaran ku, namun mungkin ada hal yang membuat kami berhubungan kembali dengan pembahasan yang sama, dan aku sangat merasa senang dan bahagia menemukan seseorang yang se-frekuensi dengan ku dan bisa ku jadikan orang yang membawa positive vibes dalam hari-hari ku, sampai-sampai aku membangun engagement yang luar biasa effort nya, tanpa ku sadari ternyata mungkin ada hal yang dari sisinya merasa bahwa aku bukan se-frekuensi dengan dirinya, dan dia menjauh dan aku coba ignore perasaan itu dan tetap membangun engagement itu dengannya hingga aku ada di titik bertepuk sebelah tangan(kaya’ percintaan ya cuy), kembali ke prinsip stoa dan respon ku adalah yang terpenting, kembali saat aku berpikir tentangnya, cepat-cepat aku bilang dalam hati, maaf…saya tak peduli.

Siapa yang tidak punya grup whatsapp saat ini? berapa grup whatsapp yang ada  di ponsel kalian? aku sih banyak yang di mute ya, hahaha… yang mungkin aku udah tidak sempat untuk terlibat dalam percakapan di dalamnya atau aku tidak terlalu tertarik untuk ikut terlibat dalam pembicaraan grup tersebut karena banyak anggota grup itu yang tidak aku kenal atau kenal namun tidak pernah bertegur sapa, atau grup yang isinya tidak ada yang bisa aku bahas, jadi cuma jadi silent reader. Tapi kalau misalnya grup whatsapp nya cuma ada 4 orang, trus ada yang bertanya di dalamnya namun saat ditunggu tidak ada balasan sampai berhari-hari namun saat di cek semua anggota grup itu udah baca, what’s wrong?. Dulu sich ngerasa kesel ya, tapi sejak itu mulai tahu apa yang perlu di bahas pada grup tertentu dan grup mana saja yang terpilih. Atau saat membahas sesuatu di grup tertentu dan berbeda pendapat dengan orang lain, maksa sampai bawa-bawa literasi dan referensi untuk membuktikan pendapatnya valid, oh shit! sekarang lebih banyak grup untuk di mute, gitu aja sich 🙂

Jadi intinya, ndak perlu ngototlah untuk hal percapakan, pertemanan,hubungan, perhatian dan cinta. Balas yang membuat damai sejahtera untuk kita, buang yang jadi batu sandungan, nikmatin yang ada pada kita dan gak perlu ngotot untuk hal-hal yang buat hati berduka. Selamat bersukacita buat kita semua :).